Jumat, 2008 Desember 19

Gone To Son Musician

Maybe it's the holiday season. Maybe it's the fact that the new year is coming. Maybe it's because there's a new baby in my house. Maybe I've read one too many stories about Amy Winehouse, Boy George, Scott Weiland, and so many other musicians who party too hard and don't know when to stop. Whatever it is, I'm feeling kind of melancholy.

We live in an age when people should know when enough is enough. There's way too much history and way too many stories of rockers who didn't know when to quit. It's not cool, it's not romantic, and it doesn't make for good art. It just leaves a lot of sad fans and family.

I'm wishing Amy the best. I’m hoping George gets his act together. They've got more music left in them, and they've got a bunch of fans ready to take them back. And I’ve got a message for the paparazzi parasites who feed off the downward spirals of struggling rock stars: You guys should learn when to quit too. You're fanning the flames and not helping anyone with your voyeuristic footage of these folks partying way too hard. You're scum, the lot of you.

Here's a reminder of the ones we lost too soon. Six men and women who didn't even make it to 30. I miss every one of them. Except Jim Morrison. That dude was a self-indulgent blowhard who wasn't doing anyone any favors. Definitely not missing the Lizard King.

All the rest, though? Major loss. Let's not add any more names to this list in '09.



JIMI HENDRIX
1942-1970

He was probably the best guitar player we ever had. He also had some bad habits that caught up with him in England. His girlfriend, Monika Dannemann, found him in his London flat. The events around his death are still controversial to this day.


JANIS JOPLIN
1943-1970

She could sing louder, better, and with more soul than anyone. She could drink grown men under the table. Still, Janis was an insecure little girl inside who couldn't shake her demons. She died alone in her hotel room while in the middle of making her album Pearl.



ANDREW WOOD (lead singer of Mother Love Bone)
1966-1990

Andrew died just before his group's first album was to be released. Bandmates Stone Gossard and Jeff Ament went on to form Pearl Jam, and Andrew was memorialized in the one-off tribute band Temple of the Dog, which also included Chris Cornell and Matt Cameron from Soundgarden.



KURT COBAIN
1967-1994

Seattle's favorite most tortured son, Kurt had stomach problems, emotional problems, and substance-abuse problems that all became too much for him to bear. His suicide brought the age of grunge to a screeching halt and still leaves a big hurt.



SHANNON HOON (lead singer of Blind Melon)
1967-1995

Sudden success did not agree with Shannon Hoon. After Blind Melon's debut album, Hoon and his band spent two years straight on the road — most of which the singer could not remember due to his partying. He tried to clean up his act in between tours but he still eventually succumbed to his addictions.



NOTORIOUS B.I.G.
1972-1997

Biggie epitomizes the horrible consequences of the late-'90s East Coast-West Coast hip-hop wars that also claimed Tupac, another remarkable young artist we lost too soon. Only 24, Biggie was gunned down after leaving a party hosted by Vibe magazine. The murder remains unsolved. (dnald.gins)

Sabtu, 2008 Desember 13

FOR SALE

°PSR E203 Seperti Baru, hanya 1,2 jt°

PSR E203. Cocok utk anak anda yang baru belajar musik. Karena ada program YES (Yamaha Education Suite) Seri.5 Tunggu apa lagi? Yang baru sekarang hampir Rp.2jt…
Cell Phone : 08176641176 & 02170130121.

ginsdonald

FOR SALE

°Saxophone Sopran°

Kondisi : Masih Baru
Harga : 2,5 Jt (nego)
Cell phone : 021 99569777

Buruan !!

Ini udah termasuk murah bgt, ntar keburu dibeli orang ;)

ginsdonald

Jumat, 2008 Desember 12

PENGERTIAN ISTILAH MUSIK

Apa sebenarnya defenisi Musik?


Kalau ditanya demikian, pastilah setiap orang dari segala lapisan masyarakat mempunyai opini atau penjelasan yang berbeda-beda. Namun yang pasti, pengertian Musik yang pertama adalah suatu bahasa dimana seseorang dapat mengungkapkan isi hatinya dan menggambarkan siapa dirinya. Pengertian Musik lainnya adalah suatu apresiasi seseorang/bahasa/emosi jiwa yang dapat memberikan keuntungan buat seseorang.


Ada juga fungsi dari Musik tersebut. Kalian tahu?


Musik sangat memiliki fungsi yang kuat dalam kehidupan manusia. Banyak orang meremehkan fungsi musik ini. Percaya tidak percaya, musik dapat menyembuhkan orang yang sedang sakit, mengurangi dampak stress secara psikologis bagi manusia, mengungkapkan isi hati kepada orang yang dicintai. Sangat banyak fungsi musik itu dalam kehidupan.

Seperti Mozart
yang mendapatkan nada atau inspirasi lagunya
lewat ketukan dipintu rumah sebanyak 4 kali saat ia ingin pintu itu dibukakan.
Namun yang pasti,
musik adalah ungkapan jiwa seseorang
yang dituangkan kedalam sebuah wadah
yang berbentuk bunyi dan nada. :)

Rabu, 2008 Desember 10

Jazz dan Musik Populer Dalam Lintasan Sejarah

Tulisan singkat ini, sejujurnya, lahir dari kegelisahan penulis sebagai seorang penggemar dan pemerhati musik jazz, oleh masih sangat minimnya perhatian masyarakat, terutama Indonesia, terhadap jenis musik ini. Seperti halnya musik klasik, sebagian besar orang memang cenderung menganggap jenis musik ini terlalu berat, abstrak, dan sulit untuk dicerna. Disamping itu, jazz acap kali distereotipkan sebagai musik kaum elite atau kaum gedongan, walaupun kenyataannya di kalangan “gedongan” sendiri, sebenarnya penggemar ataupun penikmat musik jazz masih merupakan golongan minoritas. Bahkan di kalangan kaum muda dewasa ini sudah umum dijumpai anggapan bahwa jazz adalah “musik orang tua yang membosankan dan membuat kita mengantuk”.

Munculnya imej bagi jazz yang kurang menguntungkan ini berpangkal pada sebuah pengertian yang dominan bahwa fungsi utama musik adalah untuk menghibur dan memberikan kepuasan kepada khalayak, dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Adanya perkembangan teknologi, yaitu munculnya alat perekam suara pada akhir abad –19 telah mengakibatkan pergeseran besar dalam seni musik dunia : jika pada awalnya musik merupakan ekspresi murni perasaan manusia maka kini musik menjadi produk industri rekaman dan komoditas dagang. Kapitalisme industri musik juga telah menggeser musik-musik lama yang menunjukkan identitas kultural masing-masing etnis / bangsa di dunia, dan sebagai gantinya muncullah jenis musik baru yang mengatasi dan meluruhkan perbedaan-perbedaan kultural yang ada, yaitu apa yang disebut “musik populer”. Tanpa mengesampingkan kreativitas dari musisi pop (hanya sebagian kecil musisi pop memiliki kreativitas orisinal !), sesungguhnya tidak sedikit komposisi pop merupakan bentuk-bentuk yang terstandarisasi atau reproduksi dari trend-trend sesaat, dan fenomena ini cenderung berlangsung secara global.

Dalam hal ini patut diperhatikan bahwa musik jazz muncul sebagai peralihan dari musik “tradisional” menuju musik “populer”. Pada awal perkembangannya, jazz dapat diketegorikan sebagai sebuah contoh musik tradisi, dimana musik ini sangat mewakili ekspresi dan kultur masyarakat kulit hitam di Amerika Serikat. Sebagai musik yang mewakili sebuah masyarakat yang terdiskriminasi, maka perkembangan jenis musik ini juga akan mengalami nasib kurang lebih sama. Timbulnya aliran swing pada dekade 1930-an membawa perubahan penting dalam cara orang memandang musik ini, yang akhirnya berpengaruh pada pengkategorian posisi jazz di antara berbagai musik lain. Era swing ditandai dengan munculnya jazz band dengan jumlah pemain yang besar (big band), yang dapat dilihat sebagai sebuah bentuk orkestrasi ala Eropa yang diaplikasikan dalam jazz, walaupun tetap mempertahankan ciri-ciri pokoknya, seperti improvisasi, sinkopasi dan blue note (nada yang merendah pada not ketiga dan ketujuh, merupakan ciri khas musik blues dan jazz). Dengan perkembangan tersebut, jazz tidak lagi dianggap musik “barbar” karena identik dengan orang kulit hitam. Pada masa itu, jazz bahkan telah menjadi musik populer, dengan irama swing-nya yang cocok untuk berdansa, dan pada masa itu pula jazz mulai menyebar ke belahan dunia lain seperti Eropa ataupun Asia. Tidak sedikit komposisi-komposisi jazz dari musisi handal semacam George Gershwin, Cole Porter atau Duke Ellington diangkat menjadi soundtrack film, dan komposisi-komposisi tersebut sebenarnya merupakan lagu pop pada zamannya.

Perkembangan jazz yang semakin mengarah pada musik hiburan tersebut menimbulkan reaksi di kalangan musisi jazz kulit hitam. Beberapa diantaranya seperti Charlie Parker dan Dizzy Gillespie lantas memperkenalkan bebop, sebuah style baru dalam jazz pada sekitar akhir dekade 1940-an. Kemunculan bebop ini sering disebut sebagai revolusi dalam musik jazz, karena konon para eksponennya memiliki sebuah spirit baru yang bertujuan mengembalikan jazz pada hakikatnya sebagai musik “seni” khas kaum negro. Aliran baru ini ditandai dengan berkembangnya formasi band / combo secara lebih minimalis dengan konsekuensi semakin luasnya ruang bagi improvisasi solo masing-masing pemain. Disamping gaya swing dengan formasi big band-nya, bebop dan beberapa variasi yang muncul kemudian (hard bop, cool jazz, dan sebagainya) menjadi aliran utama (mainstream) dan pusat dari perkembangan jazz dunia hingga masa kini.
Semenjak “revolusi” bebop, jazz agaknya cenderung berkembang menjadi sebuah genre yang lebih eksklusif daripada sebelumnya dan makin tampak terpisah dari berbagai jenis musik lain. Memang, jazz kemudian benar-benar berkembang menjadi sebuah musik “seni” dengan tingkat kesulitan tinggi sebagaimana halnya musik klasik. Pada masa-masa sekarang ini akan lebih banyak dijumpai musisi jazz jebolan sekolah-sekolah musik, walaupun kenyataannya para dedengkot awal jazz hampir semuanya belajar bermusik secara otodidak. Sebagai sebuah genre musik yang makin membutuhkan keseriusan, maka tidak mengherankan apabila jazz mulai agak dijauhi khalayak. Apalagi pada saat itu, trend rock’n roll makin merajai blantika musik populer dunia. Jika pada tahun 1940-an, jazz dapat dijumpai pada komunitas tempat hiburan umum dan pesta-pesta dansa, sejak sekitar tahun 1950 dan selanjutnya akan terasa “bergeser” menuju komunitas intelektual dan akademisi, dimana mereka semakin cenderung memperlakukan musik ini seakan sebuah “disiplin ilmu” tersendiri. Jika ditelaah lebih lanjut, adanya revolusi bebop setidaknya membawa beberapa dampak positif : Pertama, di tengah iklim rasialisme yang masih kuat hingga tahun 1960-an (ingat kasus tertembaknya Martin Luther King, pejuang kulit hitam AS pada tahun 1968 !), jazz mulai dikategorikan sebagai bagian dari “budaya tinggi”, disaat musik rock yang diangkat kaum kulit putih justru lebih menjadi bagian dari “budaya massa”. Kedua, dengan sedikit melepaskan diri dari bentuk orkestrasi ala swing akan memungkinkan para musisi jazz melakukan eksplorasi-eksplorasi baru dengan mengadaptasikan unsur dari musik-musik yang dianggap dapat memperkaya jazz. Tanpa bebop, mungkin tidak akan pernah ada jazz fusion, avant garde atau world music yang mengeksplorasi musik-musik etnis dari berbagai belahan dunia.

Pada masa-masa belakangan, semakin tampak bahwa musik jazz senantiasa kontradiktif dengan musik populer (rock dan pop), dimana jika seseorang menjadi penggemar salah satu jenis musik ini biasanya akan menolak yang lainnya. Yang kurang diketahui umum adalah bahwa kedua jenis musik tersebut memiliki hubungan satu sama lain yang saling mempengaruhi. Bukankah jazz maupun rock tumbuh dari akar yang sama, yakni blues ? Mungkin tidak banyak orang yang tahu bahwa lagu-lagu The Beatles telah banyak dibawakan oleh para musisi jazz sebagai lagu standar. Atau bahwa Sting, pentolan grup New Wave era 80-an, The Police, adalah juga seorang musisi jazz yang handal. Akibat interaksi antara jazz dan musik-musik hiburan terbukti telah melahirkan berbagai sintesis baru yang memperkaya nuansa baik dalam jazz maupun rock. Bagi para musisi pop atau rock yang mengadopsi elemen jazz akan memberi mereka suatu nilai lebih karena dengan demikian akan dianggap lebih bermutu, sementara sebaliknya bagi kalangan musisi jazz, dengan mengadopsi unsur musik populer akan menyebabkan karya mereka lebih memiliki daya jual.